Abstract
Kesehatan mental merupakan isu global yang kian mendesak, ditandai dengan meningkatnya prevalensi gangguan seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) di berbagai kelompok usia. Di tengah keterbatasan pendekatan konvensional baik farmakoterapi maupun psikoterapi verbal dalam hal aksesibilitas dan efek samping, art therapy atau terapi seni hadir sebagai modalitas psikoterapi integratif non-farmakologis yang memanfaatkan proses kreatif pembuatan karya seni sebagai medium ekspresi diri dan penyembuhan psikologis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis konsep art therapy sebagai metode penyembuhan psikologis dalam kesehatan mental. Hasil kajian menunjukkan bahwa art therapy terbukti efektif secara signifikan dalam mereduksi gejala kecemasan, depresi, PTSD, skizofrenia, serta gangguan jiwa lainnya pada populasi anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Keunggulan utamanya terletak pada sifatnya yang non-verbal, inklusif, dan adaptif terhadap konteks budaya lokal, menjadikannya alternatif yang relevan bagi individu yang tidak merespons terapi berbasis verbal secara optimal. Temuan ini menegaskan bahwa art therapy layak diposisikan sebagai intervensi terapeutik terstruktur yang dapat diintegrasikan secara sinergis dalam sistem layanan kesehatan mental secara menyeluruh.