Abstract


Kecemasan akademik merupakan salah satu masalah psikologis yang banyak dialami siswa akibat tuntutan belajar, ekspektasi orang tua, persaingan, dan beban ujian. Kondisi ini berdampak pada kesehatan fisik, psikologis, dan sosial siswa, serta berpotensi berkembang menjadi gangguan mental serius bila tidak ditangani. Pendekatan konseling verbal konvensional sering kali kurang efektif bagi siswa yang kesulitan mengekspresikan perasaan secara lisan. Oleh karena itu, art therapy hadir sebagai alternatif intervensi yang memanfaatkan proses kreatif seni untuk menyalurkan emosi dan pikiran secara non-verbal. Art therapy memungkinkan siswa mengekspresikan kecemasan melalui simbol, warna, dan bentuk visual, sekaligus menurunkan stres fisiologis dan membantu restrukturisasi kognitif. Bentuk kegiatan art therapy di sekolah meliputi menggambar, melukis, menari, drama, musik, dan puisi, yang semuanya bertujuan mendukung ekspresi diri, regulasi emosi, serta peningkatan kepercayaan diri. Artikel ini mengkaji konsep art therapy, ekspresi diri, dan kecemasan akademik, serta menekankan relevansi art therapy sebagai media efektif dalam layanan bimbingan dan konseling untuk membantu siswa menghadapi tekanan akademik.